MENU

Kamis, 05 Juni 2014

benteng indra patra


benteng indra patra  ini dibangun pada masa Pra-Islam, yaitu oleh Raja Kerajaan Lamuri yang merupakan Kerajaan Hindu Pertama di Aceh, tepatnya pada abad ke VII Masehi. Kala itu, benteng Indra Patra ini dibangun dengan maksud utama untuk membendung sekaligus membentengi masyarakat kerajaan Lamuri dari gempuran meriam-meriam yang berasal dari Kapal-kapal Perang Portugis. Disamping itu, benteng ini juga dipakai sebagai tempat beribadah Umat Hindu Aceh saat itu.

 

Karena alasan demi pertahanan & keamanan kerajaan, maka benteng ini dibangun di tempat yang sangat strategis, yakni di bibir pantai yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka.

 

Benteng Indra Patra ini bahkan berlangsung hingga masa Islam di Aceh tiba. Dimasa Sultan Iskandar Muda, dengan laksamananya yang sangat terkenal dan disegani, yaitu Laksamana Malahayati (laksamana wanita pertama di dunia), benteng ini juga dipergunakan sebagai benteng pertahanan bagi Kerajaan Aceh Darussalam dari serangan musuh yang datang dari arah laut.

 

Saat ini, tinggal dua dari tiga benteng yang masih berdiri kokoh. Benteng Utama berukuran 70m X 70m; dengan ketinggian 4 meter, serta ketebalan dinding mencapai sekitar 2 meter.  Arsitekturnya yang Unik, Besar, terbuat dari “beton kapur” (: susunan batu gunung, dengan perekatnya (perkiraan) dari campuran Kapur, Tanah Liat, dan alusan Kulit Kerang, serta juga telur).

 

Didalam benteng Utama terdapat dua buah “stupa” atau bangunan yang menyerupai kubah yang mana didalamnya / dibawah kubah tersebut terdapat sumur / sumber air bersih, yang (pada saat itu) dimanfaatkan oleh umat Hindu untuk penyucian diri dalam rangkaian peribadahannya. Selain itu, di dalam benteng terdapat juga bunker untuk menyimpan meriam serta bunker untuk menyimpan peluru dan senjata.

 

Benteng merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, intrik dan heroism orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, jalan Krueng Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Kr Raya.

 

Sebagai situs bersejarah, keberadaan Benteng Indra Patra tentu perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, pengambilan material oleh masyarakat akan membuat bagian-bagian benteng runtuh perlahan-lahan. Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

 

Dari segi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.

 

Untuk menyelamatkan situs bersejarah itulah, Aceh Heritage Community (AHC) bekerja sama dengan Pusat Dokumentasi Arsitektur Jakarta (PDAJ), mengadakan survei Benteng Indra Patra, 20-21 Desember. Dua orang dari PDAJ yaitu Kemal, seorang arsitek, dan Ivan, seorang arkeolog, menemani 10 orang dari AHC.

 

Benteng ini berukuran besar dan berkonstruksi kokoh, berarsitektur unik, terbuat dari beton kapur. Saat ini jumlah benteng yang tersisa hanya dua, itu pun pintu bentengnya telah hancur terkena tsunami. Pada awalnya ada tiga bagian besar benteng yang tersisa. Benteng yang paling besar berukuran 70 x 70 meter dengan ketinggian 3 meter lebih. Ada sebuah ruangan yang besar dan kokoh berukuran 35 x 35 meter dan tinggi 4 meter. Rancangan bangunannya terlihat begitu istimewa dan canggih, sesuai pada masanya karena untuk mencapai bagian dalam benteng, harus dilalui dengan memanjat terlebih dahulu.

 

Tim bergerak menyusuri sudut demi sudut, mencatat fisik bangunan yang mereka lihat. Mereka mencatat mulai dari warna bebatuan, model menara yang ada, berapa banyak lubang bidik untuk meriam yang masih utuh, apakah ada ruang bawah tanah dan banyak lagi hal lainnya. Anggota AHC membuat sketsa benteng Indra Patra untuk mencatat bentuk asli bangunan.

 

Ivan, arkeolog asal Jakarta mengatakan banyak benteng-benteng di Indonesia yang mengalami kerusakan parah. Pemerintah daerah setempat tidak peduli dengan keberadaan benteng. Kalau pun ada renovasi, banyak perbaikan yang dilakukan tidak sesuai dengan kaidah bangunan bersejarah. "Saya pernah menemukan benteng tua di Maluku yang diplester dengan dinding semen. Itu merusak keaslian benteng, mana ada semen zaman dahulu" katanya. Padahal turis ataupun pengunjung sangat menyukai keaslian bangunan sejarah.

 

Ketua AHC, Yenni Rahmayanti menambahkan renovasi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh melakukan renovasi benteng Indra Patra tidak sesuai dengan kaidah. Renovasi yang dilakukan sedikit banyak mengubah keasliannya. "Harusnya situs sejarah ini mendapat perhatian dari Balai Pelestarian Sejarah, tapi sepertinya tidak" ujarnya.

 

Memang jika kita perhatikan, sebagai contoh papan informasi penunjuk sejarah tidak ada di tempelkan. Ada juga hal lain yang menyedihkan terkait dengan keberadaan benteng. Banyak masyarakat sekitar mengambil batu-batuan benteng untuk keperluan membuat rumah bahkan ada yang mendirikan pondasi di atas reruntuhan benteng.

 

Survei Benteng Indra Patra bukan saja mencatat fisik bangunan tetapi juga mengumpulkan kisah-kisah sejarah seputar benteng. Tim melakukan studi pustaka dan wawancara dengan masyarakat sekitar untuk menggali cerita-cerita seputar Benteng Indra Patra. "Yang paling menarik dari bangunan sejarah adalah cerita seputar situs tersebut, ini yang paling menarik minat pengunjung" katanya.

 

Benteng Indra Patra dibangun oleh Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu pertama di Aceh (Indra Patra) pada masa sebelum kedatangan Islam di Aceh, yaitu pada abad ke tujuh Masehi. Benteng ini dibangun dalam posisi yang cukup strategis karena berhadapan langsung dengan Selat Malaka, sehingga berfungsi sebagai benteng pertahanan dari serangan armada Portugis. Pada masa Sultan Iskandar Muda, dengan armada lautnya yang kuat dibawah pimpinan Laksamana Malahayati, sebagai laksamana wanita pertama di dunia, benteng ini digunakan sebagai pertahanan kerajaan Aceh Darussalam.

Selasa, 29 April 2014

MUSEUM PURBAKALA GILIMANUK BALI


MUSEUM PURBAKALA GILIMANUK BALI



jumpa lagi dengan saya :) hari ini saya mau menginformasikan tentang TEMPAT SEJARAH YANG ADA DI DAERAH PROVINSI BALI yaitu MUSEUM PURBAKALA GILIMANUK.


Kelurahan Gilimanuk Kec. Melaya, Jembrana tidak hanya dikenal dengan pelabuhan lautnya yang menghubungkan Gilimanuk (Bali) dengan Ketapang (Jawa) melalui penyeberangan laut. Sejatinya banyak potensi alam maupun cagar budaya yang perlu dikembangkan. Salah satunya adalah Museum Manusia Purba Gilimanuk. Satu-satunya museum yang menyimpan barang-barang kuno dan fosil manusia purba ini, Minggu (26/2) kemarin mendapat kunjungan Bupati Jembrana I Putu Artha bersama pejabat Pemkab Jembrana lainnya.

Lokasi museum yang berada dipinggir hamparan rumput hijau yang bersih dan luas dekat teluk Gilimanuk sejatinya menyimpan panorama daya tarik yang luar biasa. Hanya saja perlu didukung sejumlah fasilitas untuk kenyamanan pengunjung. Melihat kondisi tersebut, Bupati Artha meminta Museum Manusa Purba Gilimanuk untuk segera berbenah diri. Baik dari bangunan maupun kebersihannya. Bupati Artha sangat menyayangkan sejumlah bangunan yang terkait dengan museum kondisinya rusak dan mengganggu pemandangan. Tiga bangunan yang merupkan tempat penemuan fosil tersebut kondisinya sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan informasi dari petugas museum, bangunan yang rusak tersebut dibangun dengan anggaran bank dunia, namun sejak dibangun hingga sekarang statusnya belum ada serah terima oleh Bank Dunia, sehingga jadi kendala untuk memperbaiki. “ Saya prihatin dengan bangunan yang rusak itu, segera adakan koordinasi dengan pihak terkait untuk kita perbaiki “ tegas Artha sambil menunjuk bangunan rusak. 

Lanjut Artha, asset kita ini sungguh luar biasa. Maka dari itu Bupati Artha menegaskan SKPD terkait untuk merencanakan pembenahan dan pengembangan terhadap potensi alam dan cagar budaya yang di Gilimanuk, sehingga orang yang datang ke Gilimanuk lebih nyaman termasuk museum manusia harus berbenah supaya lebih menarik pengunjung. “ Semua yang kita lakukan harus ada hasil yang jelas, percuma memasang anggaran besar-besar tetapi hasilnya tidak nampak “ tegasnya. Artha berkeyakinan dengan pembenahan potensi, Gilimanuk khususnya wilayah museum dan sekitarnya akan menjadi daerah wisata yang menjanjikan, apalagi dengan dukungan masyarakat Gilimanuk yang heterogen dan memiliki daya usaha cukup tinggi, akan menambah kemajuan Gilimanuk. 

cuman segitu yang saya bisa saya  informasikan meskipun hanya copas tapi semoga bermanfaat buat anda 
dan terima kasih sudah mengunjungi blog saya tunggu artikel selanjutnya :)

SEJARAH TIGARAKSA BANTEN


SEJARAH TIGARAKSA BANTEN

selamat siang kawan semoga harimu ceria hari ini :)
hari ini saya mau berbagi tentang informasi TEMPAT-TEMPAT SEJARAH DI INDONESIA 
yang salah satunya adalah SEJARAH TIGARAKSA BANTEN yang terletak di daerahTangerang-banten.
SEJARAH TIGARAKSA 
1. Mas Layeng Nama Aslinya Adalah Pangeran Jaya Perkasa , beliau adalah Patih sekaligus panglima perang dari kerajaan Pajajaran yang didampingi oleh Ki Seteng yang nama aslinya Embah Terong Peot yang kesaktianya menyamai Ki mas Laeng. Mas laeng dan Ki Seteng beserta balad tentaranya ditugaskan untuk menghancurkan islam yang mulai masuk merambah ajaranya ke derah kerajaan Pajajaran yang pada masa itu kerajaan banten di rajai oleh Sultan Maulana Hasanudin , Mas Laeng beserta Balad tentaranya berpusat ( Bermarkas) di daerah sumur siuk/ Sumur pancuran Katomas pabuaran sampai sekarang, Kuta = Benteng Pancuran Mas = Mas Menjadi Katomas sampai Sekarang

2. Syeh Mas Masad adalah Ulama Besar sebgai panglima tentara islam yang ditugaskan oleh sultan Maulana Hasanudin Banten untuk menyebarkan agama islam ke daerah tigaraksa Sekarang . Bertahun tahun berkecambuk peperangan antara Syeh Mas Masad beserta pasukanya Ki Mas Laeng dan ki Seteng beserta tentaranya namun karena sama sama saktinya tidak ada yang kalah dan menang . Syeh Mas Ma'sad beliau wafat dan dimakamkan di kermat Solear Pasanggarahan Kec. Solear
3. Syeh Mubarok yang Nama Aslinya Ki Indit beliau adalah ulama besar penerus perjuangan Syeh Mas Masad yang telah wafat , syeh Mubarok terus berjuang menegakan agama tauhid yaitu Islam dengan Gigihnya . Namun peperangan tetap tidak ada yang kalah ataupun menang. Peperangan tersebut amat melelahkan untuk kedua belah fihak . syeh mubaruk terus bermunazat kepada allah agar kebatilan segera di hilangkan dan akhirnya beliau mendapat petunjuk dari allah SWT , Syeh mubarok mengusulkan kepada pihak ki mas laeng agar diadakan musyawarah Dengan penuh Kearifanya Syeh Mubarok menjelaskan apa artinya Islam beliau menjelaskan bahwa islam adalah agama rohmatan lil alamin  di dengarkan dan disimak oleh Ki Mas Laeng dan Ki Seteng dan Akhirnya Ki Maslaeng dan Ki Seteng beserta pasukanya mendapatkan taufik dan hidayah dari Allah SWT. yang akhirnya Ki Mas Laeng dan Ki Seteng dan pasukanya masuk agama islam, akibat haru yang sangat mendalam karna musyawarah berjalan dengan baik semua yang hadir dalam musyawarah tersebut benangis mengeluarkan air mata (yang dalam bahasa sunda Ci = air  soca = mata ) maka sejak itulah di sebut "CISOKA", sampai sekarang

Maka Asal Usul Terjadinya Kota Tigaraksa menurut beberapa sumber adalah berhasilnya dengan gemilang permusyawaratan / perdamaian antara Syeh Mubarok , Ki Mas Laeng dan Ki Seteng                     Tigaraksa , TIGA ORANG YANG MEMELIHARA PERDAMAIAN.

Ket
  •  Makam Ki Syeh Mas Masad berada di  Keramat Solear Pasanggrahan
  • Makam Syeh Mubarok Berada di Kp. Kelapa Dua Desa Pete Tigaraksa
  • Makom Ki Mas laeng dan Ki Seteng Di Keramat Mamplem Tigaraksa
Selain itu ada beberapa tokoh yang namanya di jadikan nama jalan di tigaraksa yang berawal ketika sultan Agung dari Mataram berperang melawan kompeni belanda di batavia/sunda kelapa(jakarta sekarang) mengutus Aria Jaya Santika, Aria Wangsa Kara,  Aria Yuda Negara, Aria Said
  1. Aria Jaya sentika berkkedudukan membuat kerajan kecil sekitar kp. Gudang beliu dimakamkan di kampung melayu ada pual yang menyatakan beliau dimakamkan di keramat asem cengkareng beliau , mempunyai anak bernaa KI ARIA SAID
  2. Aria Wangsakara Berkedudukan berkedudukan di Jambe -Solong dan akhirnya ke Pondok Arentangerang
  3. Aria Yuda Negara Berkedudukan di Pasar Kemis menyerang melalui Sepatan Ke batavia/jakarta
  4. Aria Said putra dari Ki Arya Jaya Sentika   menjadi tumenggung yang berkdudukan di kampung gudang.
cuman segitu yang saya bisa saya  informasikan meskipun hanya copas tapi semoga bermanfaat buat anda 
dan terima kasih sudah mengunjungi blog saya tunggu artikel selanjutnya :)

Share It

Follow by Email

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog lain

Memuat...

tempat tempat bersejarah di indonesia

Mengenai Saya

Foto Saya

The only way to do great work is to love what you do, even though you hate it.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews